Wisata Religi Lombok Cukup Menjanjikan

Photo Screen Google
LOMBOK : Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kali ini secara khusus hanya meninjau obyek-obyek wisata religi. Potensi wisata religi di Lombok saat ini dinilai sudah sangat menjanjikan buat dikunjungi wisatawan asing maupun wisatawan domestik.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi X DPR Nuroji saat memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik ke Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam Kunjungan tersebut Komisi X DPR telah melakukan pertemuan dengan Wakil Gibernur Provinsi NTB dan jajarannya, Pimpinan DPRD Provinsi NTB, Walikota Mataram, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta dengan Pengurus Perusahaan Tour and Travel Agency Indonesia (ASITA) di Kantor Gibernur Provinsi NTB Kamis (10/12) siang.
Nuroji mengatakan, mengembangkan potensi wisata religi di Privinsi NTB khususnya Lombok dinilai sangat penting karena Lombok sudah dikatakan pantas menjadi pusat wisata nasional, tinggal bagaimana pengelolaan ke depan serta tetap memelihara potensi wisata tersebut dengan baik.

“ Wisata religi Lombok tidak kalah dengan wisata religi seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan Madura. Semua potensi wisata yang ada di Lombok sudah cukup memadai keindahannya, tinggal bagaimana kedepan Pemerintah Daerah untuk tetap menjaga dan mengembangkannya. Kesemuanya ini tidak terlepas bantuan dan dukungan Pemerintah Pusat dalam hal anggaran agar potensi wisata religi Lombok tetap dapat berkembang dan diharapkan akan lebih baik lagi dari yang ada sekarang,” tegasnya.

Politisi Fraksi Gerindra juga mengemukakan bahwa dalam Rapat Kerja Komisi X DPR dengan Menteri Pariwisata pada bulan lalu telah disepakati pagu anggaran (definitif) Kementerian Pariwisata, RAPBN TA 2016 sebesar Rp.5.409.025.863.000. Terhadap pagu anggaran (definitif) tersebut, Komisi X DPR mendorong Kemenpar agar target kinerja yang telah disusun dalam Renstra dan RKP tahun 2016 tidak mengalami penurunan dari target yang telah ditetapkan.



Target itu berupa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari 10 juta pada tahun 2015 sekurang-kurangnya memjadi 12 juta pada tahun 2016. Jumlah penerimaan devisa dari sebesar Rp 155 triliun pada tahun 2015 sekurang-kurangnya menjadi Rp.172 triliun pada tahun 2016.

Untuk itu, lanjut Nuroji, Lombok pada tahun yang lalu pernah diidentifikasikan menjadi Bali kedua. Namun itu gagal dikarenakan masalah kearifan lokal yang belum dapat diterapkan di Lombok sehingga ditolak karena salah satu pendekatan dengan para ulama di daerah kurang. Bahkan masyarakat Lombok mengatakan jika para wisatawan asing maupun domestik datang ke Lombok dapat melihat Bali, namun jika wisatawan datang ke Bali tidak dapat melihat Lombok.

Nuroji berharap, masyarakat Lombok semestinya dapat menjaga kearifan lokalnya agar Lombok tetap menjadi daerah wisata yang tetap indah, aman dan damai, juga tetap menjaga kuliner kehalalannya. (spy,mp)[Source]
Share on Google Plus

.

0 comments:

Post a Comment

I N F O T A I M E N T

-

FILM JADUL